Hari ini ini, 16 Desember adalah tepat 40 tahun Soe Hok Gie meninggal. Namun kenangan akan dirinya masih terus ada di benak para sahabatnya, bahkan pada para pemuda yang tidak sezaman dengannya.
Di eranya, Soe Hok Gie adalah pemuda idealis yang terus menyuarakan keresahannya atas ketidak adilan dan ketidakberesan kondisi sosial politik di negeri ini. Meski sebenarnya dia mengagumi Soekarno, ini terbukti dari kesaksia beberapa sahabatnya, Soe Hok Gie tidak jarang terlibat dalam pertentangan terbuka dengan Presiden Soekarno. Dia sering mengkritik kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh presiden Soekarno yang dianggapnya terlalu berlebihan dalam menggunakan kekuasaan. Juga kekecewaannya ketika PKI sangat kental di tubuh pemerintahan dan kebijakan politik harga tinggi yang menurutnya, adalah upaya pemerintah mengelabuhi masyarakat sehingga tidak berpikir lagi apa yang sedang terjadi di tubuh pemerintahan. Masyarakat dibuat hanya memikirkan apa yang akan dimakan mereka besok karena imbas dari kebijakan politik ini adalah naiknya harga-harga bahan pokok.
Semangatnya dalam memikirkan bangsa ini, pemikiran-pemikiran, yang menurut para ahli, melampaui jaman dan usianya saat itu menjadi suatu inspirasi tersediri bagi pemuda saat ini. Seolah menyindir kita para pemuda untuk tidak menyibukkan diri pada hal-hal yang remeh temeh seperti apa trend fashion saat ini, siapa artis yang hendak cerai hari ini, dan pembicaraan-pembicaraa tidak penting lainnya yang sering kali ditampilkan secara vulgar dalam parade saur-sambut status facebook.
Maka pantas jika salah satu acara televisi yang bisa dikatakan bermutu di negeri ini, dan itu jarang, Kick Andy merasa penting untuk mengangkat tema ini dihadapan pemirsa. Ini sekaligus memperingati hari meninggalnya Soe Hok Gie yang juga sehari sebelum hari ulang tahunnya. Sudah 40 tahun dia meninggal.
Dialog-dialog berkualitas khas Kick Andy disuguhkan dalam acara taping kala itu. Para sahabatnya dihadirkan untuk menghidupkan kembali kenangan akan Soe Hok Gie. Termasuk Herman Lantang, sahabat karibnya yang menjadi saksi mata satu-satunya meninggalnya Soe Hok Gie di puncak Gunung Semeru, Jawa Timur.
Soe Hok Gie mati tepat di pangkuan Herman Lantang sahabatnya ini. Setelah di usut, penyebab kematiannya adalah karena menghirup gas beracun yang keluar dari lereng Gunung Semeru saat delapan orang kelomok Soe Haok Gie mendaki. Tidak semuanya tewas saat itu, hanya Soe Hok Gie dan satu temannya Idham Lubis yang akhirnya menghembuskan nafas terakhir.
Dalam acara ini juga diceritakan kegelisahan-kegelisahan Soe Hok Gie melihat perkembangan perpolitikan kampus yang sudah disusupi kepentingan politik ekstra kampus. Dia menyebutnya politk tai kucing karena lebih mementingkan kepentingan golongan masing-masing daripada kepetingan mahasiswa di Fakultas Sastra UI.
Untuk mengenang 40 tahun meninggalnya pemuda Soe Hok Gie, sahabat dan orang-orang yang mengaguminya berinisiatif menerbitkan sebuah buku tentang Soe Hok Gie. Buku itu berjudul SOE HOK GIE …Sekali lagi yang di dalamnya merupakan kumpulan tulisan testimoni dari pada sahabatnya dan orang-orang yang respek pada pemikiran dan sikapnya.
Buku yang cukup tebal karena memiliki 500 halaman lebih ini serasa mengisi kekosongan karya pustaka tentang Soe Hok Gie yang vakum sekian lama setelah terakhir adalah tulisannya sendiri Catatan Seorang Demonstran terbitas LP3S. Sedangkan buku yang terbarunya ini diterbitkan oleh kerja sama antara Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Universitas Indonesia, Ikatan Alumni Universtas Indonesia, dan KOMPAS. Editor buku yang juga memilki subjudul Buku, Pesta, dan Cinta di Alam Bangsanya ini adalah para sahabat dan murid Soe Hak Gie di Fakultas Sastra UI tempat dia pernah menjadi dosen semasa hidupnya, mereka adalah Rudy Badil, Luki Sutrisno Bekti, dan Nessy Luntungan R.
Seperti biasa acara Kick Andy, buku terbaru tentang Soe Hok Gie yang cukup tebal ini dibagikan gratis kepada pengujugan yang ikut hadir menyakskan di studio Metro TV, termasuk saya. Untuk Anda yang juga meminginginkan buku ini bisa menyaksikan siaran Kick Andy edisi Soe Hok Gie pada Jumat, 18 Desember besok pukul setengan sepuluh malam.
Di eranya, Soe Hok Gie adalah pemuda idealis yang terus menyuarakan keresahannya atas ketidak adilan dan ketidakberesan kondisi sosial politik di negeri ini. Meski sebenarnya dia mengagumi Soekarno, ini terbukti dari kesaksia beberapa sahabatnya, Soe Hok Gie tidak jarang terlibat dalam pertentangan terbuka dengan Presiden Soekarno. Dia sering mengkritik kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh presiden Soekarno yang dianggapnya terlalu berlebihan dalam menggunakan kekuasaan. Juga kekecewaannya ketika PKI sangat kental di tubuh pemerintahan dan kebijakan politik harga tinggi yang menurutnya, adalah upaya pemerintah mengelabuhi masyarakat sehingga tidak berpikir lagi apa yang sedang terjadi di tubuh pemerintahan. Masyarakat dibuat hanya memikirkan apa yang akan dimakan mereka besok karena imbas dari kebijakan politik ini adalah naiknya harga-harga bahan pokok.
Semangatnya dalam memikirkan bangsa ini, pemikiran-pemikiran, yang menurut para ahli, melampaui jaman dan usianya saat itu menjadi suatu inspirasi tersediri bagi pemuda saat ini. Seolah menyindir kita para pemuda untuk tidak menyibukkan diri pada hal-hal yang remeh temeh seperti apa trend fashion saat ini, siapa artis yang hendak cerai hari ini, dan pembicaraan-pembicaraa tidak penting lainnya yang sering kali ditampilkan secara vulgar dalam parade saur-sambut status facebook.
Maka pantas jika salah satu acara televisi yang bisa dikatakan bermutu di negeri ini, dan itu jarang, Kick Andy merasa penting untuk mengangkat tema ini dihadapan pemirsa. Ini sekaligus memperingati hari meninggalnya Soe Hok Gie yang juga sehari sebelum hari ulang tahunnya. Sudah 40 tahun dia meninggal.
Dialog-dialog berkualitas khas Kick Andy disuguhkan dalam acara taping kala itu. Para sahabatnya dihadirkan untuk menghidupkan kembali kenangan akan Soe Hok Gie. Termasuk Herman Lantang, sahabat karibnya yang menjadi saksi mata satu-satunya meninggalnya Soe Hok Gie di puncak Gunung Semeru, Jawa Timur.
Soe Hok Gie mati tepat di pangkuan Herman Lantang sahabatnya ini. Setelah di usut, penyebab kematiannya adalah karena menghirup gas beracun yang keluar dari lereng Gunung Semeru saat delapan orang kelomok Soe Haok Gie mendaki. Tidak semuanya tewas saat itu, hanya Soe Hok Gie dan satu temannya Idham Lubis yang akhirnya menghembuskan nafas terakhir.
Dalam acara ini juga diceritakan kegelisahan-kegelisahan Soe Hok Gie melihat perkembangan perpolitikan kampus yang sudah disusupi kepentingan politik ekstra kampus. Dia menyebutnya politk tai kucing karena lebih mementingkan kepentingan golongan masing-masing daripada kepetingan mahasiswa di Fakultas Sastra UI.
Untuk mengenang 40 tahun meninggalnya pemuda Soe Hok Gie, sahabat dan orang-orang yang mengaguminya berinisiatif menerbitkan sebuah buku tentang Soe Hok Gie. Buku itu berjudul SOE HOK GIE …Sekali lagi yang di dalamnya merupakan kumpulan tulisan testimoni dari pada sahabatnya dan orang-orang yang respek pada pemikiran dan sikapnya.
Buku yang cukup tebal karena memiliki 500 halaman lebih ini serasa mengisi kekosongan karya pustaka tentang Soe Hok Gie yang vakum sekian lama setelah terakhir adalah tulisannya sendiri Catatan Seorang Demonstran terbitas LP3S. Sedangkan buku yang terbarunya ini diterbitkan oleh kerja sama antara Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Universitas Indonesia, Ikatan Alumni Universtas Indonesia, dan KOMPAS. Editor buku yang juga memilki subjudul Buku, Pesta, dan Cinta di Alam Bangsanya ini adalah para sahabat dan murid Soe Hak Gie di Fakultas Sastra UI tempat dia pernah menjadi dosen semasa hidupnya, mereka adalah Rudy Badil, Luki Sutrisno Bekti, dan Nessy Luntungan R.
Seperti biasa acara Kick Andy, buku terbaru tentang Soe Hok Gie yang cukup tebal ini dibagikan gratis kepada pengujugan yang ikut hadir menyakskan di studio Metro TV, termasuk saya. Untuk Anda yang juga meminginginkan buku ini bisa menyaksikan siaran Kick Andy edisi Soe Hok Gie pada Jumat, 18 Desember besok pukul setengan sepuluh malam.





Mantap sekali reviewnya mas. sangat menari tentunya, saya pernah jadi mantan aktivis lokal. jadi agak tertarik persoalan yang kayak gini.
Soe Hok Gie, besar-dikenang, malah ketika dia sudah tiada. ini luar biasa, betapa panjangnya umur beliau selalu di kenang sepanjang waktu karena pemikirannya. sayang, di Kebumen 3 bioskop sudah tutup. di rumahku Metro TV juga tak begitu jelas, kadang tak muncul gambarnya sama sekali. maklum mas di perbukitan.
terima kasih Mas.
Selamat Tahun Baru Hijriyah 1431.semoga di beri kemurahan rezeqi sehingga program bagi-bagi buknya Mas Trian Jalan Terus. Amien.